PT. Sanshiro Harapan Makmur

Ruko Caringin No. 5, Jl. Mayjend HE. Sukma Km.17, Caringin - Bogor,16740. (0251) 8224 105 (0251) 8224 018 info@sanshiro.co.id

Perbedaan Interpretering dan Translation

1. Pengertian Interpreting dan Translation

     a. Interpreting
Interpreting adalah proses menerjemahkan bahasa lisan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.

   b. Translation
Translation adalah proses menerjemahkan bahasa tulisan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.

2. Pengertian Interpreter dan Translator

  • Interpreter
    Interpreter atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Juru Bahasa berbeda dengan Translator atau penterjemah dalam segi media yang dipakai untuk menerjemahkan. Interpreter akan menterjemahkan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran secara langsung atau orally. Lebih sederhananya interpreter adalah seoarang juru bahasa yang mengalihkan bahasa lisan dari bahasa satu ke bahasa yang lain dalam waktu yang sama atau “on the spot“ (saat itu juga).
  • Translator
    Translator atau penterjemah, dalam arti luas terjemahannya mengacu pada proses dan hasil mentransfer teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Dalam arti sempit, mengacu pada rendering teks yang ditulis dalam bahasa lain sebagai lawan secara simultan menafsirkan bahasa lisan. Pada intinya seorang translator adalah seorang penerjemah bahasa yang mengalihkan satu teks tulisan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dan memiliki waktu yang lebih fleksibel.

3. Persamaan dan Perbedaan Interpreter dan Translator

  • Persamaan Interpreter dan Translator
    • Menerjemahkan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain
    • Mempunyai grammer yang bagus
    • Mempunyai pengetahuan tentang kebudayaan
    • Pengalih bahasa dan penerjemah harus memiliki pengetahuan bahasa pasif yang baik dari bahasa yang mereka kerjakan
    • Pengalih bahasa dan penerjemah harus memiliki penguasaan Bahasa yang baik
    • Pengalih bahasa dan penerjemah harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bidang teks atau pembicaraan yang diterjemahkan
    • Penerjemah (tulis & lisan) harus tahu bagaimana cara menterjemahkan
    • Sementara penerjemah lisan menguasai bahasa lisan (listening) tingkat reseptif.
  • Perbedaan Interpreter dan Translator
    Interpreter
    Translator

Pada prakteknya penerjemahan lisan, penerjemah tidak memiliki kesempatan luas untuk menggunakan kamus atau bahan referensi lain pada saat penerjemahan berlangsung karena keterbatasan waktu.
Pada prakteknya penerjemah tulis memiliki kesempatan luas untuk menggunakan kamus atau bahan referensi lain pada saat penerjemahan berlangsung karena waktu yang fleksibel.

sementara penerjemah lisan menguasai bahasa lisan (listening) tingkat reseptif.
Penerjemah tulis menguasai bahasa tulis tingkat reseptif

Penerjemah lisan, dituntut kemampuan untuk dapat mengungkapkan gagasan dalam bahasa langsung secara lisan/tingkat reseptif
penerjemah tulis harus menguasai kemampuan menulis atau mengungkapkan gagasan dalam bahasa secara tertulis dengan baik (tingkat produktif)

Penerjemahan lisan dituntut keterampilan berbicara (rhetoric) yang baik dan suara yang jelas
Dalam penerjamah tulis hal ini tidak diperlukan dalam penerjemahan tulis.

Penerjemah lisan harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan langsung.
Penerjemah tulis tidak harus memiliki kemampuan tersebut karena harus bisa memanfaatkan kamus atau referensi yang lain secara tepat.

4. Jenis-jenis Interpreter

  • Konferensi
    Penafsir konferensi biasanya hadir pada pengaturan seperti, konferensi, pertemuan pers, negosiasi, siaran televisi, dll.
  • Pengadilan
    Jika memiliki kemampuan yang unggul, menjadi juru bahasa di pengadilan sangat menantang, menyediakan akses yang sama terhadap sistem peradilan dengan bekerja sama dengan orang-orang yang tidak memahami atau berbicara bahasa dalam proses hukum.
  • Parlementer
    Biasanya digunakan dalam Biro Translation, penafsir parlemen memberikan layanan pada konferensi pers dan proses asosiasi.
    d. Masyarakat dan kesehatan
    Penafsir masyarakat bekerja paing sering dengan imigran dan pekerja imigran, membantu meringankan hambatan bahasa dalam pelayanan sosial dan sisitem kesehatan.

5. Modes Interpreter
Cara-cara atau Modes Interpreter

  • Consecutive interpreting merupakan suatu kegiatan penerjemahan lisan secara bergantian dalam konferensi atau pertemuan. Pelaksanaanya penerjemah duduk bersama peserta dalam satu ruangan, mencatat apa yang dikatakan pembicara. Kemudian penterjemah mengalihbahasakan pernyataan/ujaran tersebut dengan atau tanpa catatan pada setiap akhir ujaran pembicara (jeda). Proses penerjemahan dilakukan dengan cara bergantian, artinya penerjemah menjelaskan ulang setelah pembicara memberi jeda dalam penjelasannya. Jadi, urutan bicaranya adalah pembicara – penerjemah – pembicara – penerjemah, dan seterusnya.
  • Simultaneous interpreting merupakan suatu kegiatan penerjemahan lisan simultan. Dalam penerjemahan ini penerjemah berada di ruang khusus (booth) yang bersembunyi di balik kaca hitam terpisah dengan peserta konferensi. Biasanya dalam penerjemahan lisan simultan peserta memakai head set atau alat dengan yang ditempel di telinganya. Pembicara dan penerjemah berbicara bersama-sama dalam bahasa yang berbeda. Bilamana peserta tidak ingin mendengarkan bahasa sasaran, mereka bisa melepas head set yang dipakainya. Peserta dapat memilih bahasa sasaran dengan menekan tombol saluran bahasa yang diinginkan melalui head set. Suara yang didengar itu suara interpreter bukan suara speaker.
  • Liason Interpreting adalah menerjemahkan dalam bentuk konteks yang formal, misalnya di dalam forum pendidikan, politik dan lain sebagainya.
  • Whispered interpretation merupakan suatu kegiatan penerjemahan lisan secara berbisik. Penerjemah yang di dalamnya antara interpreter dan speaker berada bersama-sama dalam satu ruangan. Tempat duduk antara interpreter dan speaker tidak jauh. Penerjemah dan speaker duduk berdampingan. Proses penerjemahan ini dilakukan dengan cara membisikkan informasi kepada pendengarnya. Gaya bicara antara speaker dan interpreter bisa bergantian maupun bersama-sama. Tetapi penerjemah hanya boleh berbisik-bisik dilarang berbicara keras.

6. Kualifikasi Seorang Interpreter dan Translator
Kemampuan-Kemapuan Yang Harus Dimiliki Seorang Interpreter Dan Translator

  • Memahami dan menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran. Ini merupakan kemampuan yang harus sama-sama dimiliki oleh penerjemah baik tulis maupun lisan karena ia tidak akan bisa menterjemahkan dengan tepat tanpa penguasaan bsu dan bsa.
  • Mengenal budaya bsu dan bsa. Penguasaan bsu tanpa pemahaman budayanya akan menghasilkan terjemahan yang salah kaprah karena bahasa tidak terlepas dari konteks dan budaya yang nantinya akan sangat membantu untuk menterjemahkan secara efektif dan dapat menyesuaikannya dengan budaya bsa.
  • Menguasai topik atau masalah yang dibicarakan atau teks yang diterjemahkan. Bagi penerjemah tulis hal ini dapat juga dilakukan saat menterjemahkan, sementara penerjemah lisan harus mempelajari sebelum penerjemahan.
  • Terkait bahan yang diterjemahkan, maka penerjemah tulis menguasai bahasa tulis tingkat reseptif, sementara penerjemah lisan menguasai bahasa lisan (listening) tingkat reseptif.
  • Terkait produknya, penerjemah tulis harus menguasai kemampuan menulis atau mengungkapkan gagasan dalam bsa secara tertulis dengan baik (tingkat produktif). Syarat ini mutlak dikuasai penerjemah karena tulisan merupakan medianya dalam komunikasi. Sementara, penerjemah lisan, dituntut kemampuan untuk dapat mengungkapkan gagasan dalam bsa langsung secara lisan/tingkat reseptif. Walaupun dalam kenyataannya bisa dengan cara membacakan konsep yang telah dibuat sebelumnya (in sight interpreter). Berarti dalam penerjemahan lisan dituntut keterampilan berbicara (rhetoric) yang baik dan suara yang jelas, hal tidak diperlukan dalam penerjemahan tulis.
  • Bagi pengalih bahasa harus terampil dalam membuat catatan secara bersamaan dan pada detik berikutnya mengungkap catatan tersebut dalam bsa secara lisan. Seringkali hal ini berlangsung bersamaan. Syarat ini tidak dituntut dalam penerjemahan tulis.
  • Penerjemah tulis harus mampu menggunakan kamus dan bahan referensi lainnya secara efektif selama penerjemahan. Sementara dalam penerjemahan lisan, penerjemah harus mampu mengalihkan pesan dari pembicara dalam bsu ke bahasa sasaran secara langsung tanpa menggunakan kamus atau referensi lainnya sesuai kondisi kerjanya. Hal ini karena penerjemahan lisan berjalan dalam waktu yang cepat bahkan terkadang bersamaan dengan pembicara sehingga tidak dimungkinkan penggunaan kamus atau referensi lainnya.
  • Penerjemah lisan harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan langsung.

7. Note Taking
Kemampuan mencatat atau ”note-taking” sangat berperan penting dalam hal ini sehingga interpreter tidak kehilangan informasi,data-data yang harus disampaikannya. Jangan salah ”note-taking” bukanlah stenografi. Banyak interpreter yang menciptakan simbol-simbol atau tanda-tanda sendiri sebagai taktik dan strategi dalam mencatat data atau info supaya tidak lupa.
Fungsi dari note taking:

  • Sebagai info supaya tidak lupa.
  • Agar tidak kehilangan informasi,data-data yang harus disampaikannya.